LIMA KECINTAAN ALLAH KEPADA ORANG YANG BERPUASA
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Apakah Allah mencintai kita ? Apakah kita termasuk orang-orang yang dicintai Allah, disukai Allah, disenangi Allah ? Ataukah sebaliknya kita termasuk orang-orang yang dibenci Allah, dimurkai Allah, diazab dan disiksa Allah.
Maka melalui pelaksanaan ibadah puasa adalah sebagai jalan agar kita dicintai, disenangi dan disukai oleh Allah SWT:
1. Pertama : Melalui Tujuan PuasaIbadah puasa yang kita laksanakan adalah bertujuan untuk membentuk manusia yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya dengan penuh kesadaran, kesungguhan, keikhlasan, ketulusan dan kedisiplinan.
Maka orang bertaqwa akan dicintai, disenangi dan disukai oleh Allah SWT :
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ (٤)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS At taubah (9) : 4)
Melalui ibadah puasa, kita dibina, dibimbing, dididik, diatih oleh Allah SWT agar memiliki sikap sabar, yaitu sikap yang apabila ditimpa musibah, mendapat masalah, kesulitan, kerumitan, ujian, cobaan dalam hidup, mereka sabar menghadapinya, sadar menjalaninya, tegar menerimanya, ikhtiar mengatasinya.
Maka orang sabar akan dicintai, disenangi dan disukai oleh Allah SWT :
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٤٦)
Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS : Al Imran (3) : 146)
Ibadah puasa juga mengajarkan kepada kita untuk berjihad, berperang melawan hawa nafsu, bersungguh-sungguh, bekerja keras dalam menegakkan kalimatullah, menegakkkan syariat Allah, dengan harta, jiwa dan segala kemampuan yang dimilikinya.
Maka orang yang berjihad, berperang dijalan Allah akan dicintai, disenangi dan disukai oleh Allah SWT :
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan Allah,… (QS : As shaff (61) : 4)
Bulan puasa juga mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak amal sholeh, memperbanyak ibadah, memperbanyak berbuat baik; memberikan sebagian rejekinya untuk saudara saudaranya, memberikan infaq sodaqoh untuk pakir miskin, suka menolong orang, hidupnya bermanfaat bagi orang lain dan lain sebagainya.
Maka orang yang berbuat baik seperti ini akan dicintai, disenangi, disukai oleh Allah SWT :
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١٣)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS : Al Maidah (5) : 13)
Di bulan Ramadhan, bulan Maghfirah, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak taubat, memohon, meminta, mengharap ampunan kepada Allah, atas segala dosa, kesalahan, kekhilafan, kealpaan, noda dan aib yang kita lakukan, yaitu lisannya memperbanyak istighfar, hatinya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan salahnya, qolbunya menyesali dengan sungguh sungguh akan kesalahannya dan raganya meninggalkan perbuatan dosanya dengan bersungguh-sungguh bertaubat (taubatan nasuha).
Maka orang yang bertaubat dan membersihkan diri seperti ini akan dicintai, disenangi dan disukai oleh Allah SWT :
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. (QS. Al Baqarah (2) : 222)
EMPAT PENYEBAB GELAPNYA HATI ( ZULMANI )
Abdullah bi Mas’ud pernah berkata : Empat hal yang menyebabkan gelapnya hati, yaitu :
Pertama : Perut yang terlalu kenyang
Perut yang terlalu kenyang akan menyebabkan malas beraktifitas ; beribadah malas, bekerja malas, belajar malas. Malas beibadah akan menyebabkan hati menjadi gelap. Maka jagalah ‘patuangan’. “Barang siapa makannya besar, maka perutnya akan besar. Barang siapa perutnya besar, maka dagingnya besar. Barang siapa dagingnya besar, maka syahwatnya akan besar. Barangsiapa syahwatnya besar, maka dosanya akan besar”.
Kedua : Berteman dengan orang orang zalim
Berhati hatilah dalam memilih teman, pilihlah teman yang akan meningkatkan keimanan, ketaqwaan, kesolehan, keilmuan. Jangan memilih teman yang bisa membawa kepada kelalaian, kemaksiatan, kefasikan dan kekufuran.
Pepatah mengatakan : Bergaul dengan tukang sate, akan terbawa bau sate. Bergaul dengan tukang minyak wangi, maka akan terbawa wangi.
Barang siapa :
Bergaul dengan orang kaya, akan menambah kecintaanya pada dunia.
Bergaul dengan penguasa (pejaba), akan bertambah keras hatinya dan takabbur.
Bergaul dengan wanita, akan bertambah syahwatnya dan kebodohannya.
Bergaul dengan anak anak, maka akan senang bermain.
Bergaul dengan orang fasik, akan cenderung melakukan kemaksiatan dan menunda nunda tobat
Bergaul dengan orang fakir, akan menambah rasa syukur dan ridha terhadap rizki dari Allah.
Bergaul dengan orang shalih, akan bertambah rasa cintanya dalam mentaati Allah
Bergaul dengan ulama, akan bertambah ilmu dan amalnya
Maka jagalah pergaulan, perkataan, patuangan, pandangan dan panangan.
Ketiga : Melupakan dosa yang pernah dilakukan
Dosa ibarat titik hitam yang menghiasi hati kita, semakin banyak dosa, maka titik hitampun akan semakin banyak dan menutupi hati kita. Sehingga hati kita semakin hitam, semakin gelap, semakin berkarat, maka hidayah akan sulit masuk. Ibarat kaca yang terkena debu tiap hari, semakin lama semakin tebal, semakin pekat, hitam, maka sinar matahari tidak akan tembus masuk kedalam kaca tersebut. Oleh karena itu perbanyak istighfar, memohon ampunan, apalagi di bulan ramadhan sebagai bulan maghfirah.
Sepuluh syarat tobat :
- Lisannya membaca istighfar
- Hatinya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi
- Qolbunya menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan
- Raganya meninggalkan segala bentuk perbuatan dosa tersebut
- Mencintai dan mengutamakan akhirat
- Tekun beribadah dan rajin menuntut ilmu
- Tidak cinta duniawi
- Sedikit bicara
- Sedikit tidur
- Sedikit makan dan minum
Keempat : Panjang angan angan
Panjang angan angan ( thulul ‘amal ) adalah memikirkan dan menanti nanti sesuatu yang sulit untuk diraih, yang mencerminkan cinta dunia. Banyak melamun, banyak bekhayal, berhalusinasi yang belum pasti, sehingga malas bekerja, malas beribadah.
Panjang angan angan ( thulul ‘amal ) adalah sifat seseorang yang memilki harapan atau cita cita yang berlebihan terhadap kehidupan dunia. Dampaknya :
Lalai dari ibadah dan akhiratAGAR HATI TETAP HIDUP LAKSANAKAN 3 BER
Agar hati kita tetap hidup, selamat, sehat, bangun, bersih, bening, suci (Qolbun Salim) laksanakan 3 Ber :
Pertama : Berteman dengan Al Quran
Al Quran (Adz Dzikr) adalah kumpulan firman Allah, sebagai petunjuk bagi manusia, yang akan memberikan cahaya pada hati manusia yang membacanya. Al Quran merupakan :
- Wahyu langsung dari Allah.
- Mukzizat terbesar Nabi Muhammad SAW
- Pedoman, pahala dan keberkahan
- Sumber hukum dan ilmu pengetahuan
- Penenang hati dan penyembuh mental
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ
[yaitu] orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS : Ar Rad : 28)
Ayat demi ayat Al qur’an yang kita baca adalah hidayah, maghfirah, ma’rifatullah dan nurullah.
Antara NGAJI (baca Al Quran) dan NGEJO (masak nasi untuk badan) itu harus seimbang. Ngaji untuk akhlak, ngejo untuk awak ; Ngaji teu (red;tanpa) Ngejo : LAPAR, Ngejo teu Ngaji : KESASAR. Teu Ngaji, teu Ngejo : MODAR. Rajin Ngaji, rajin Ngejo : SEGAR BUGAR !
Kedua : Bersahabat dengan Sholat
Ungkapan bahasa Arab mengatakan :
Assholatu Mi’rojul Mu’minin
Shalat adalah mi’rajnya orang beriman
Maknanya bahwa shalat itu sebagai sarana, naiknya orang beriman bertemu dengan Allah, Shalat adalah sebagai sarana berkomunikasi, bermunajat dan berdoa secara langsung kepada Allah SWT. Melalui shalat ruh kita, jiwa kita diperjalankan 5 waktu sehari semalam menghadap Allah SWT
Sholat merupakan :
- Perintah langsung dari Allah (Isro Mi’raj)
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَـٰبً۬ا مَّوۡقُوتً۬ا (١٠٣)
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An Nisa : 103)
- Sarana Komunikasi dengan Allah
- Menenangkan hati dan pikiran
- Menghapus dosa
- Mencegah perbuatan keji dan munkar.
Dengan sholat khusyu, menjadikan hati bersih, bening, suci, (Qolbun Salim). Berarti hatinya bercahaya (nurani)
Ketiga : Bergaul dengan Ilmu
Hidupnya hati karena adanya ilmu, matinya hati karena tidak adanya ilmu. Maka ilmu sangat penting dalam menghidupkan hati :
- Perintah dalam Islam
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim (HR. Ibnu Majah)
- Ilmu sebagai jalan menuju surge
- Meningkatkan kualitas hidup
- Membedakan yang benar dan salah
- Ilmu memberikan kemuliaan
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ۚ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ( QS . Al Mujadilah : 11)
Dengan seni, hidup akan indah. Tanpa seni hidup kasar.
Dengan agama hidup akan terarah. Tanpa agama hidup kesasar
JENIS JENIS HATI MENURUT IMAM AL GHAZALI
Imam Al-GhazalI dalam buku Ihya ‘Ulumiddin membagi hati menjadi beberapa jenis:
1. Qalbun Salim (hati yang bersih): Hati yang selamat dari penyakit batin dan dipenuhi cahaya iman
Ciri ciri hati yang hidup :
- Dipenuhi keimanan dan ketaqwaan
- Senang dan tenang dalam beribadah dan berdzikir
- Bersih dari penyakit hati (hasad, riya, ujub, takabur dll)
- Menjauhi kemaksiatan dan kehinaan
- Tawakal, ridha, sabar dan syukur kepada Allah
- Selalu mengingat kematian dan akhirat
- Merasa takut (siksa, azab) dan harap kepada Allah
- Tidak menyimpan dendam dan mudah memaafkan
- Selalu muraqabah dan muhasabah (instrospeksi diri)
- Senang beribadah dan merasa nikmat dalam taat.
- Mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
- Tidak cinta berlebihan pada dunia.
- Merasa tenang dalam kesendirian bersama Allah.
Penyakit batin ; Hasad (iri hati), Riya’ (pamer ibadah), Ujub (bangga diri), Sum’ah (ingin terkenal), hubuddunya (cinta dunia berlebihan) dll
Beberapa cara untuk membersihkan hati:
- Dzikir dan Istighfar: Selalu mengingat Allah.
- Menjaga pandangan, perkataan, pendengaran, dan pergaulan.
- Beribadah secara khusu dan ikhlas
- Laksanakan 7 ( Tujuh ), Sunah Rasul : (Sholat Tahajud, Sholat Dhuha, Sholat Berjamaah di Mesjid, Tadzabur Al Quran, Infaq (shodaqoh), Istighfar (berdzikir), dan selalu Berwudlu.
Hati yang bercahaya (nurani) : Dipenuhi dengan iman, ketakwaan, dan dzikir. Hati seperti ini akan selalu merasa tenteram dan dekat dengan Allah.
Hati yang bercahaya → Penuh dengan iman, ketakwaan, dan makrifat kepada Allah.
Hati yang lembut seperti tanah subur → Mudah menerima hidayah
Ciri ciri hati yang mati :
- Tidak tergerak melakukan amal sholeh ; sholat, membaca Quran, bersedekah
- Tidak merasa berdosa melakukan kemaksiatan dan kehinaan
- Tidak merasa takut terhadap siksa dan azab Allah
- Tidak mau mendengar nasihat kebenaran
- Malas beribadah dan berdzikir
- Senang dengan kemaksiatan dan kehinaan
- Benci kepada orang orang sholeh dan mulya
- Cinta dunia berlebihan
Penyebab hati menjadi keras :
- Banyak tertawa berlebihan tanpa sebab yang jelas.
- Sering melakukan dosa tanpa taubat.
- Cinta dunia dan harta berlebihan hingga lupa akhirat.
- Kurang membaca Al-Qur’an dan dzikir.
- Banyak makan dan tidur sehingga malas beribadah.
Hati yang gelap (zulmani) : Dipenuhi dengan dosa, kelalaian, dan cinta dunia berlebihan. Hati seperti ini akan sulit menerima kebenaran dan sering merasa gelisah. Hati yang keras seperti batu cadas → Sulit menerima nasihat dan hidayah.
Hati yang berkarat → Tertutup oleh dosa dan kelalaian, sehingga jauh dari Allah
Ciri ciri Qolbun Maridh :
- Masih ada iman tetapi lemah, mudah terpengaruh oleh maksiat
- Mudah tergoda oleh dosa, tahu itu dosa tetapi tetap dilakukan, sulit menahan godaan hawa nafsu
- Merasa resah, gelisah dan tidalk tenang setelah melakukan maksiat
- Kadang rajin ibadah, tak jarang lalai berbadah
- Masih ada iri, dengki dan riya
- Masih mencintai dunia secara berlebihan
- Belum istiqomah dalam beribadah
- Menunda nunda taubat, belum benar benar meninggalkan dosa
- Mudah terpengaruh oleh pergaulan buruk
Hati yang kotor tertutup oleh beberapa lapisan, antara lain:
- Dosa kecil yang terus dilakukan tanpa taubat.
- Cinta dunia yang berlebihan hingga melupakan akhirat.
- Banyak bicara dan lalai dari dzikir yang mengeraskan hati.
- Banyak makan dan tidur hingga malas beribadah.
ENAM KEADAAN HATI MENURUT ALI BIN ABI THALIB
Imam Ali Bin Abi Thalib RA pernah berkata, “tubuh kita ini selalu melewati enam keadaan : hidup, mati, sehat, sakit, bangun dan tidur. Begitu pula ruh ( hati ) kita akan mengalami enam keadaan : kadang hidup, kadang mati, kadang sehat, terkadang sakit, kadang bangun dan tak jarang tidur.
Adapun hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya hati adalah akibat tidak ada ilmu. Sehatnya hati adalah berkat keyakinan, sakitnya hati dikarenakan keragu raguan. Bangunnya hati berasal dzikir yang kita lakuka dan tidurnya hati dikarenakan kelalaian.
Oleh karena itu mari di bulan ramadhan sebagai bulan pembinaan, penggemblengan hati kita agar selalu hidup, sehat dan bangun. Melalui ibadah puasa (shaum), sholat fardu, sholat tarawih, tadarus al Quran, Kultum dll. Maka bulan ramadhan adalah sebagai bulan untuk menghidupkan, menyehatkan dan membangunkan hati kita, agar memiliki hati yang bersih, bening, suci dan selamat ( Qolbun Salim ).
RAMADHAN SEBAGAI BULAN PEMBAKARAN 2
Sesuatu benda, kalau dibakar, setelah mengalami proses pembakaran, maka benda tersebut akan mengalami nilai tambah, bernilai tinggi, berharga mahal. Tanah dibakar jadi bata, dibakar menggunakan IPTEK jadi keramik, yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Besi dibakar jadi pisau, arit, gergaji, dibakarnya pakai IPTEK jadi motor, mobil, yang memiliki ekonomi tinggi.
Manusia dibakar, diramadhankan jadi taqwa, jadi mulya ( insan karimah ). Dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela dibakar dengan puasa, sholat tarawih, tadarus, tawadlu, qona’ah, ikhlas, saling mengasihi, saling mencintai, maka manusia itu menjadi manusia yang bertaqwa.
Manusia bertaqwa adalah manusia yang palimg mulia.
إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡۚ
- Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Menurut Imam Ali Syari’ati : “Manusia terdiri dari unsur tanah dan ‘ruh’. Unsur tanah melahirkan sifat-sifat yang kotor, sifat-sifat Syetoniyah ; iri, dengki, angkuh, serakah. Sedangkan unsur ‘ruh’ melahirkan sifat-sifat yang baik, sifat-sifat ‘Ilahiyah’; cinta, sayang, pemurah, penolong.
Maka sebulan lamanya, melalui ibadah puasa, maka unsur-unsur tanah, sifat-sifat kotor, sifat-sifat Syetoniyah (angkuh, dengki, serakah, bakhil dll) dibersihkan, disucikan dengan sifat-sifat Ilahiyah (melalui baca Al Qur’an, Sholat Tarawih, Infaq, dll), sehingga jiwa kita menjadi bersih dan suci, sehingga kita menjadi orang beruntung. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS Asy Syam ayat 9 – 10) :
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّٮٰهَا (٩)
وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّٮٰهَا (١٠)
- Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
- dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Sesuatu benda, kalau dibakar, setelah mengalami proses pembakaran, maka benda tersebut akan mengalami nilai tambah, bernilai tinggi, berharga mahal. Tanah dibakar jadi bata, dibakar menggunakan IPTEK jadi keramik, yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Besi dibakar jadi pisau, arit, gergaji, dibakarnya pakai IPTEK jadi motor, mobil, yang memiliki ekonomi tinggi.
Manusia dibakar, diramadhankan jadi taqwa, jadi mulya ( insan karimah ). Dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela dibakar dengan puasa, sholat tarawih, tadarus, tawadlu, qona’ah, ikhlas, saling mengasihi, saling mencintai, maka manusia itu menjadi manusia yang bertaqwa.
Manusia bertaqwa adalah manusia yang palimg mulia.
إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡۚ
- Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Menurut Imam Ali Syari’ati : “Manusia terdiri dari unsur tanah dan ‘ruh’. Unsur tanah melahirkan sifat-sifat yang kotor, sifat-sifat Syetoniyah ; iri, dengki, angkuh, serakah. Sedangkan unsur ‘ruh’ melahirkan sifat-sifat yang baik, sifat-sifat ‘Ilahiyah’; cinta, sayang, pemurah, penolong.
Maka sebulan lamanya, melalui ibadah puasa, maka unsur-unsur tanah, sifat-sifat kotor, sifat-sifat Syetoniyah (angkuh, dengki, serakah, bakhil dll) dibersihkan, disucikan dengan sifat-sifat Ilahiyah (melalui baca Al Qur’an, Sholat Tarawih, Infaq, dll), sehingga jiwa kita menjadi bersih dan suci, sehingga kita menjadi orang beruntung. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS Asy Syam ayat 9 – 10) :
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّٮٰهَا (٩)
وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّٮٰهَا (١٠)
- Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
- dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
RAMADHAN SEBAGAI BULAN PEMBAKARAN 1
Istilah Ramadhan artinya ‘sangat terik’, ‘panas yang menyengat’’, ‘panon poe ereng-ereng’. Bulan ramadhan adalah bulan pembakaran. Pembakaran terhadap dosa, kesalahan, kekhilapan, aib kita kepada Allah atau kepada sesama manusia. Dosa kepada Allah ; banyak menentang Allah, banyak melanggar perintah Allah. Dosa kepada sesama manusia : sering menyAkiti, menyinggung dan melukai perasaan orang lain.
Semua dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela, pada bulan ini dibakar dengan amal ibadah : puasa, sholat tarawih, tadarus Al Qur’an, shodaqoh.
- Sebelas bulan mata kita sering jelalatan, berbuat kemaksiatan, dibakar dengan rajin membaca Al Qur’an
- Sebelas bulan mulut kita banyak ngomong tak karuan, dibakar dengan tadarusan, dengan ucapan-ucapan dzikir kepada Allah
- Sebelas bulan tangan kita, kadang dipakai mengambil hak orang, memukul orang, dibakar dengan rajin mengulurkan tangan untuk shodaqoh, membantu menolong orang
- Sebelas bulan kaki kita sering dilangkahkan ketempat kemaksiatan, dibakar dengan sering datang ke tempat pengajian
- Sebelas bulan telinga kita sering digunakan untuk mendengarkan kejelekan orang, dibakar dengan mendengarkan pengajian.
Selain dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, juga dibakar sifat-sifat tercela, sifat buruk kita lainnya, antara lain :
- Iri, dengki kita, dibakar dengan saling mengasihi dan mencintai
- Tamak, serakah, haram jadah kita, dibakar denga sifat qona’ah
- Riya, ujub kita, dibakar dengan sifat ikhlas
- Angkuh, sombong kita, dibakar dengan sifat tawadlu, rendah hati
Sifat-sifat saling mengasihi, mencintai, qona’ah, ikhlas, tulus, tawadlu adalah sifat-sifat yang diajarkan, ditanamksn dalam
Istilah Ramadhan artinya ‘sangat terik’, ‘panas yang menyengat’’, ‘panon poe ereng-ereng’. Bulan ramadhan adalah bulan pembakaran. Pembakaran terhadap dosa, kesalahan, kekhilapan, aib kita kepada Allah atau kepada sesama manusia. Dosa kepada Allah ; banyak menentang Allah, banyak melanggar perintah Allah. Dosa kepada sesama manusia : sering menyAkiti, menyinggung dan melukai perasaan orang lain.
Semua dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela, pada bulan ini dibakar dengan amal ibadah : puasa, sholat tarawih, tadarus Al Qur’an, shodaqoh.
- Sebelas bulan mata kita sering jelalatan, berbuat kemaksiatan, dibakar dengan rajin membaca Al Qur’an
- Sebelas bulan mulut kita banyak ngomong tak karuan, dibakar dengan tadarusan, dengan ucapan-ucapan dzikir kepada Allah
- Sebelas bulan tangan kita, kadang dipakai mengambil hak orang, memukul orang, dibakar dengan rajin mengulurkan tangan untuk shodaqoh, membantu menolong orang
- Sebelas bulan kaki kita sering dilangkahkan ketempat kemaksiatan, dibakar dengan sering datang ke tempat pengajian
- Sebelas bulan telinga kita sering digunakan untuk mendengarkan kejelekan orang, dibakar dengan mendengarkan pengajian.
Selain dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, juga dibakar sifat-sifat tercela, sifat buruk kita lainnya, antara lain :
- Iri, dengki kita, dibakar dengan saling mengasihi dan mencintai
- Tamak, serakah, haram jadah kita, dibakar denga sifat qona’ah
- Riya, ujub kita, dibakar dengan sifat ikhlas
- Angkuh, sombong kita, dibakar dengan sifat tawadlu, rendah hati
Sifat-sifat saling mengasihi, mencintai, qona’ah, ikhlas, tulus, tawadlu adalah sifat-sifat yang diajarkan, ditanamksn dalam
MAKNA RAMADHAN 2
Kata Ramadhan melambangkan 5 simbol, yaitu ; RA – MIM – DHAD – ALIF – NUN :
Pertama : ‘RA’ melambangkan RAHMATULLAH ( Rahmat Allah )
Rahmat Allah (رحمة الله) berarti kasih sayang Allah, anugerah Allah dan belas kasih Allah yang diberikan kepada hambaNya terutama 10 hari diawal bulan Ramadhan. Rahmat Allah mencakup segala bentuk kebaikan dan nikmat yang dianugerahkan, dilimpahkan, dicurahkan kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat. Antara lain : kekayaan, kesehatan, kecerdasan, kehormatan, kedudukan, pangkat jabatan pengampunan, hidayah, dan termasuk nanti di akhirat : masuk surga !
Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
“Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” Para sahabat bertanya, ‘Termasuk engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua : ‘MIM’ Maghfirah ( Ampunan Allah )
Maghfirah (مغفرة) secara bahasa berasal dari kata غَفَرَ (ghafara) yang berarti menutupi, mengampuni, atau memaafkan. Maghfirah berarti ampunan dari Allah SWT terhadap dosa-dosa hamba-Nya, baik dengan menghapusnya maupun menutupi aib mereka. Ampunan Allah sangat melimpah terutama di 10 hari pertengahan bulan Ramadhan bagi mereka yang memohon ampun dengan tulus
Ketiga ‘DHAD’ melambangkan DHAMANULAH ( Jaminan Allah )
Dhamanullah (ضمان الله) berarti jaminan atau tanggungan Allah. Orang berpuasa dijamin Allah menjadi orang taqwa, dijamin mendapat pahala yang berlifat ganda, dijamin akan masuk surga.
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّـٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلاً
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)
Keempat : ‘ALIF’ melambangkan ITKUM MINANNAR ( Terbebas dari Api Neraka )
Itkum Minan-Nar (العتق من النار) berarti pembebasan dari api neraka, yang diberikan oleh Allah di 10 akhir bulan Ramadhan, di mana Allah SWT memberikan kebebasan dari siksa neraka bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih.
Itkum Minan-Nar diberikan kepada mereka yang berusaha meningkatkan ketakwaan, menjauhi maksiat, dan memperbanyak ibadah seperti puasa, shalat malam, sedekah, dan dzikir.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kelima : .NUN’ melambangkan NURULLAH ( Cahaya Allah )
Nurullah (نور الله), Cahaya Allah yang berarti petunjuk, hidayah, atau keberkahan yang datang dari Allah SWT.
Bulan ramadhan sebagai Bulah Allah ( Syahrullah ), bulan turunnya cahaya Allah ( Nurullah ), cahaya yang menerangi seluruh jagat alam, cahaya yang menerangi hati nurani manusia ( hidayah )
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Ketika cahaya Allah telah masuk ke dalam hati seorang hamba, maka dadanya akan terasa lapang dan tenang.” (HR. Ahmad)
Kata Ramadhan melambangkan 5 simbol, yaitu ; RA – MIM – DHAD – ALIF – NUN :
Pertama : ‘RA’ melambangkan RAHMATULLAH ( Rahmat Allah )
Rahmat Allah (رحمة الله) berarti kasih sayang Allah, anugerah Allah dan belas kasih Allah yang diberikan kepada hambaNya terutama 10 hari diawal bulan Ramadhan. Rahmat Allah mencakup segala bentuk kebaikan dan nikmat yang dianugerahkan, dilimpahkan, dicurahkan kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat. Antara lain : kekayaan, kesehatan, kecerdasan, kehormatan, kedudukan, pangkat jabatan pengampunan, hidayah, dan termasuk nanti di akhirat : masuk surga !
Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
“Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” Para sahabat bertanya, ‘Termasuk engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua : ‘MIM’ Maghfirah ( Ampunan Allah )
Maghfirah (مغفرة) secara bahasa berasal dari kata غَفَرَ (ghafara) yang berarti menutupi, mengampuni, atau memaafkan. Maghfirah berarti ampunan dari Allah SWT terhadap dosa-dosa hamba-Nya, baik dengan menghapusnya maupun menutupi aib mereka. Ampunan Allah sangat melimpah terutama di 10 hari pertengahan bulan Ramadhan bagi mereka yang memohon ampun dengan tulus
Ketiga ‘DHAD’ melambangkan DHAMANULAH ( Jaminan Allah )
Dhamanullah (ضمان الله) berarti jaminan atau tanggungan Allah. Orang berpuasa dijamin Allah menjadi orang taqwa, dijamin mendapat pahala yang berlifat ganda, dijamin akan masuk surga.
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّـٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلاً
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)
Keempat : ‘ALIF’ melambangkan ITKUM MINANNAR ( Terbebas dari Api Neraka )
Itkum Minan-Nar (العتق من النار) berarti pembebasan dari api neraka, yang diberikan oleh Allah di 10 akhir bulan Ramadhan, di mana Allah SWT memberikan kebebasan dari siksa neraka bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih.
Itkum Minan-Nar diberikan kepada mereka yang berusaha meningkatkan ketakwaan, menjauhi maksiat, dan memperbanyak ibadah seperti puasa, shalat malam, sedekah, dan dzikir.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kelima : .NUN’ melambangkan NURULLAH ( Cahaya Allah )
Nurullah (نور الله), Cahaya Allah yang berarti petunjuk, hidayah, atau keberkahan yang datang dari Allah SWT.
Bulan ramadhan sebagai Bulah Allah ( Syahrullah ), bulan turunnya cahaya Allah ( Nurullah ), cahaya yang menerangi seluruh jagat alam, cahaya yang menerangi hati nurani manusia ( hidayah )
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Ketika cahaya Allah telah masuk ke dalam hati seorang hamba, maka dadanya akan terasa lapang dan tenang.” (HR. Ahmad)
SYAHRU RAHMAH
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadhan disebut Syahru Rahmah yaitu bulan kasih sayang, bulan cinta kasih dimana Allah SWT sedang mencurah curahkan kasih sayangnya, cinta kasihnya kepada umatnya, kepada kita, umat kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pahala dilipatgandakan, dosa dosa diampunkan, doa doa dikabulkan, pintu surga dibukakan, inilah bentuk kasih sayang, cinta kasih Allah kepada kita. Melalui ibadah Puasa Allah ajarkan kepada kita untuk saling mencintai sesama manusia dan bagaimana agar kita di cintai, disenangi, disukai oleh Allah SWT.
Ada beberapa cara agar kita di cintai oleh Allah melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan :
Pertama : Melalui Taqwa. Allah mewajibkan umat muslim beriman untuk melaksanakan ibadah puasa adalah dalam rangka membentuk manusia bertaqwa (Laa’alakum tatakun) yaitu manusia yang disiplin, istiqomah dalam menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala karanganNya. Manusia yang selalu takut dan malu kepada Allah. Maka orang bertaqwa akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ
” Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaqwa” (QS : At Taubah : 4)
Kedua : Melalui Kebaikan. Allah mengajarkan kepada kita melalui ibadah puasa untuk banyak banyak berbuat kebaikan, memberikan infak sodaqoh, zakat fitrah, menyantuni fakir miskin, anak yatim, menyisihkan sebagian rizkinya kepada kaum duafa, kepada saudara saudaranya. Maka orang yang seperti ini akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan” (QS : Al Maidah : 13).
Ketiga : Melalui Sabar. Puasa melatih kita untuk menahan makan dan minum di siang hari, menahan diri dari berbagai macam perbuatan yang akan membatalkan puasa, ini berarti melatih kesabaran; sabar dalam menjalankan puasa, sabar dalam menghadapi godaan, sabar dalam menghadapi ujian. Maka orang sabar seperti ini akan dicintai oleh Allah.
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Dan Allah menyukai orang orang sabar” (QS : Al Imran :146)
Keempat : Melalui Jihad. Puasa melatih kita untuk berjihad, berperang, memerangi hawa nafsu, memerangi godaan syetan. Atau Jihad dalam arti ‘sungguh sungguh‘. Siang hari kita berjihad (besungguh sungguh) melaksanakan ibadah puasa. Malam hari kita berjihad (Jihadul lail) melaksanakan qiyamul lail, tadzarus Al Qur’an. Ibu ibu berjihad (besungguh sungguh) mempersiapkan makanan untuk sahur dan berbuka keluarga. Bapak bapak berjihad (besungguh sungguh) bekerja, mencari nafkah untuk keluarga. Maka orang yang seperti ini akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berperang di jalanNya“. (QS ; As Saff : 4)
Kelima : Melalui Taubat. Bulan Ramadhan sebagai syahru Maghfirah, bulan ampunan. Ibadah ibadah kita di bulan ramadhan akan menggugurkan dosa dosa yang telah kita lakukan sebelas bulan. Ibadah Puasa akan menggugurkan dosa hati dan lisan kita, membaca Al Qur’an menggugurkan dosa mata kita, infak shodaqoh menggugurkan dosa tangan kita, sholat ke mesjid/mushola menggugurkan dosa kaki kita. Oleh karena itu perbanyak bertaubat, beribadah kepada Allah. Maka orang yang rajin bertaubat akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaubat dan menyukai orang orang yang mensucikan diri” (QS : Al Baqarah : 222)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadhan disebut Syahru Rahmah yaitu bulan kasih sayang, bulan cinta kasih dimana Allah SWT sedang mencurah curahkan kasih sayangnya, cinta kasihnya kepada umatnya, kepada kita, umat kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pahala dilipatgandakan, dosa dosa diampunkan, doa doa dikabulkan, pintu surga dibukakan, inilah bentuk kasih sayang, cinta kasih Allah kepada kita. Melalui ibadah Puasa Allah ajarkan kepada kita untuk saling mencintai sesama manusia dan bagaimana agar kita di cintai, disenangi, disukai oleh Allah SWT.
Ada beberapa cara agar kita di cintai oleh Allah melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan :
Pertama : Melalui Taqwa. Allah mewajibkan umat muslim beriman untuk melaksanakan ibadah puasa adalah dalam rangka membentuk manusia bertaqwa (Laa’alakum tatakun) yaitu manusia yang disiplin, istiqomah dalam menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala karanganNya. Manusia yang selalu takut dan malu kepada Allah. Maka orang bertaqwa akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ
” Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaqwa” (QS : At Taubah : 4)
Kedua : Melalui Kebaikan. Allah mengajarkan kepada kita melalui ibadah puasa untuk banyak banyak berbuat kebaikan, memberikan infak sodaqoh, zakat fitrah, menyantuni fakir miskin, anak yatim, menyisihkan sebagian rizkinya kepada kaum duafa, kepada saudara saudaranya. Maka orang yang seperti ini akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan” (QS : Al Maidah : 13).
Ketiga : Melalui Sabar. Puasa melatih kita untuk menahan makan dan minum di siang hari, menahan diri dari berbagai macam perbuatan yang akan membatalkan puasa, ini berarti melatih kesabaran; sabar dalam menjalankan puasa, sabar dalam menghadapi godaan, sabar dalam menghadapi ujian. Maka orang sabar seperti ini akan dicintai oleh Allah.
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Dan Allah menyukai orang orang sabar” (QS : Al Imran :146)
Keempat : Melalui Jihad. Puasa melatih kita untuk berjihad, berperang, memerangi hawa nafsu, memerangi godaan syetan. Atau Jihad dalam arti ‘sungguh sungguh‘. Siang hari kita berjihad (besungguh sungguh) melaksanakan ibadah puasa. Malam hari kita berjihad (Jihadul lail) melaksanakan qiyamul lail, tadzarus Al Qur’an. Ibu ibu berjihad (besungguh sungguh) mempersiapkan makanan untuk sahur dan berbuka keluarga. Bapak bapak berjihad (besungguh sungguh) bekerja, mencari nafkah untuk keluarga. Maka orang yang seperti ini akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berperang di jalanNya“. (QS ; As Saff : 4)
Kelima : Melalui Taubat. Bulan Ramadhan sebagai syahru Maghfirah, bulan ampunan. Ibadah ibadah kita di bulan ramadhan akan menggugurkan dosa dosa yang telah kita lakukan sebelas bulan. Ibadah Puasa akan menggugurkan dosa hati dan lisan kita, membaca Al Qur’an menggugurkan dosa mata kita, infak shodaqoh menggugurkan dosa tangan kita, sholat ke mesjid/mushola menggugurkan dosa kaki kita. Oleh karena itu perbanyak bertaubat, beribadah kepada Allah. Maka orang yang rajin bertaubat akan di cintai oleh Allah SWT.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaubat dan menyukai orang orang yang mensucikan diri” (QS : Al Baqarah : 222)
SYAHRUL JIHAD
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadhan sebagai Syahrul Jihad, bulan jihad, bulan perang, peperangan, perjuangan, memerangi hawa nafsu. Memerangi hawa nafsu bukan berarti ‘membunuh’, mematikan hawa nafsu, sebab apabila kita tidak punya hawa nafsu, hidup tidak bersemangat, tidak bergairah, tidak ada kemauan, bekerja lemes, beribadah males !
Memerangi hawa nafsu berarti : ‘mengendalikan’, ‘mengarahkan’ nafsu kita ? Bagaimana upaya mengarahkan mata kita, tangan kita , kaki kita dan mulut kita, untuk diarahkan seuai dengan keinginan (kehendak) Allah, bukan berdasarkan keinginan sendiri.
Nafsu itu dibagi 3 macam :
Pertama : Nafsu Amarah Bissu
Yaitu nafsu yang cenderung mengajak kepada kejahatan, kesesatan dan kedzoliman. Nafsu ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh, tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syetan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Yusuf (12) ayat 53 :
إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٥٣)
53. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
Kedua : Nafsu Lawwamah
Yaitu nafsu yang cenderung kepada kebaikan, tapi kadang-kadang kepada kejahatan, kejelekan. Nafsu ini belum sempurna ketenangannya karena selalu menentang atau melawan kejahatan, tetapi suatu saat teledor dan lalai dalam berbakti kepada Allah SWT, sehingga dicela dan disesalinya. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Qiyaamah (75) ayat 2
وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ (٢)
2. dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri)
Ketiga : Nafsu Muthmainah
Yaitu nafsu yang tenang, tentram, nafsu mardhiyah, nafsu yang selalu istiqomah, selalu ikhlas. Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari keguncangan, kegoncangan, keresahan, kegelisahan yang disebabkan oleh bermacam-macam tantangan, permasalahan dan dari bisikan syetan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS : Al Fajr (89) ayat : 27 – 30
يَـٰٓأَيَّتُہَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ (٢٧) ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬ (٢٨) فَٱدۡخُلِى فِى عِبَـٰدِى (٢٩) وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى (٣٠)
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.
Apabila nafsu kita tidak terkendali, maka akan menimbulkan 4 sifat hati manusia yang tidak baik :
1. Sifat Rububiyah
Pertama, sifat Rububiyah yaitu sifat “ketuhanan” yang terdapat pada diri manusia yang apabila telah menguasai diri manusia maka ia ingin menguasai, menduduki jabatan yang tinggi, menguasai ilmu apa saja, suka memaksa orang lain dan tak mau direndahkan, maunya hanya dipuji. Juga kecenderungannya takabbur, membanggakan diri, riya (suka pujian dan sanjungan), popularitas, dan sebagainya. Manusia merasa menjadi Tuhan, merasa pang palingna, paling kaya, paling pinter, pang pinterna, pang benerna, sehingga takkabur, sombong, ingin menang sendiri
2. Sifat Syaitoniyah
Kedua, sifat Syaithaniyah, yaitu sifat “kesetanan” yang ada pada diri manusia yang apabila telah menguasai dirinya ia akan suka merekayasa dengan tipu daya dan meraih segala sesuatu dengan cara-cara yang jahat. Dari sini muncul iri, dengki, hasut, sewenang-wenang, menipu, berdusta, dan lebih condong perbuatan munafik. Manusia yang hidupnya memiliki perilaku syetan. Tidak kenal halal haram. Tidak senang melihat orang lain berkecukupan : tetangga menduduki jabatan, teman mendapatkan kenikmatan.
3. Sifat Bahimiyah
Ketiga, sifat Bahimiyah, yaitu sifat manusia berupa “kehewanan” yang apabila telah menguasai dirinya ia akan rakus, tamak, suka mencuri, makan berlebihan, egois, suka berzina, berperilaku homoseks dan memperturutkan syahwat (halal haram sama saja) tanpa pengendalian, selalu merasa kurang, suka menindas, memeras kepada yang lemah’ , ingin menang sendiri.
4. Sifat Sabuiyah
Keempat, sifat Sabu’iyah, yaitu sifat “kebuasan” yang apabila menguasai diri manusia ia akan suka bermusuhan, berkelahi, suka marah, suka menyerang, suka membunuh, suka memaki, suka bermusuhan, sadis, kejam, marah, memukul, selalu rakus, tidak merasa puas, baik harta, tahta, wanita, pangkat, jabatan, kedudukan, kekayaan,
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadhan sebagai Syahrul Jihad, bulan jihad, bulan perang, peperangan, perjuangan, memerangi hawa nafsu. Memerangi hawa nafsu bukan berarti ‘membunuh’, mematikan hawa nafsu, sebab apabila kita tidak punya hawa nafsu, hidup tidak bersemangat, tidak bergairah, tidak ada kemauan, bekerja lemes, beribadah males !
Memerangi hawa nafsu berarti : ‘mengendalikan’, ‘mengarahkan’ nafsu kita ? Bagaimana upaya mengarahkan mata kita, tangan kita , kaki kita dan mulut kita, untuk diarahkan seuai dengan keinginan (kehendak) Allah, bukan berdasarkan keinginan sendiri.
Nafsu itu dibagi 3 macam :
Pertama : Nafsu Amarah Bissu
Yaitu nafsu yang cenderung mengajak kepada kejahatan, kesesatan dan kedzoliman. Nafsu ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh, tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syetan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Yusuf (12) ayat 53 :
إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٥٣)
53. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
Kedua : Nafsu Lawwamah
Yaitu nafsu yang cenderung kepada kebaikan, tapi kadang-kadang kepada kejahatan, kejelekan. Nafsu ini belum sempurna ketenangannya karena selalu menentang atau melawan kejahatan, tetapi suatu saat teledor dan lalai dalam berbakti kepada Allah SWT, sehingga dicela dan disesalinya. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Qiyaamah (75) ayat 2
وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ (٢)
2. dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri)
Ketiga : Nafsu Muthmainah
Yaitu nafsu yang tenang, tentram, nafsu mardhiyah, nafsu yang selalu istiqomah, selalu ikhlas. Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari keguncangan, kegoncangan, keresahan, kegelisahan yang disebabkan oleh bermacam-macam tantangan, permasalahan dan dari bisikan syetan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS : Al Fajr (89) ayat : 27 – 30
يَـٰٓأَيَّتُہَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ (٢٧) ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬ (٢٨) فَٱدۡخُلِى فِى عِبَـٰدِى (٢٩) وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى (٣٠)
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.
Apabila nafsu kita tidak terkendali, maka akan menimbulkan 4 sifat hati manusia yang tidak baik :
1. Sifat Rububiyah
Pertama, sifat Rububiyah yaitu sifat “ketuhanan” yang terdapat pada diri manusia yang apabila telah menguasai diri manusia maka ia ingin menguasai, menduduki jabatan yang tinggi, menguasai ilmu apa saja, suka memaksa orang lain dan tak mau direndahkan, maunya hanya dipuji. Juga kecenderungannya takabbur, membanggakan diri, riya (suka pujian dan sanjungan), popularitas, dan sebagainya. Manusia merasa menjadi Tuhan, merasa pang palingna, paling kaya, paling pinter, pang pinterna, pang benerna, sehingga takkabur, sombong, ingin menang sendiri
2. Sifat Syaitoniyah
Kedua, sifat Syaithaniyah, yaitu sifat “kesetanan” yang ada pada diri manusia yang apabila telah menguasai dirinya ia akan suka merekayasa dengan tipu daya dan meraih segala sesuatu dengan cara-cara yang jahat. Dari sini muncul iri, dengki, hasut, sewenang-wenang, menipu, berdusta, dan lebih condong perbuatan munafik. Manusia yang hidupnya memiliki perilaku syetan. Tidak kenal halal haram. Tidak senang melihat orang lain berkecukupan : tetangga menduduki jabatan, teman mendapatkan kenikmatan.
3. Sifat Bahimiyah
Ketiga, sifat Bahimiyah, yaitu sifat manusia berupa “kehewanan” yang apabila telah menguasai dirinya ia akan rakus, tamak, suka mencuri, makan berlebihan, egois, suka berzina, berperilaku homoseks dan memperturutkan syahwat (halal haram sama saja) tanpa pengendalian, selalu merasa kurang, suka menindas, memeras kepada yang lemah’ , ingin menang sendiri.
4. Sifat Sabuiyah
Keempat, sifat Sabu’iyah, yaitu sifat “kebuasan” yang apabila menguasai diri manusia ia akan suka bermusuhan, berkelahi, suka marah, suka menyerang, suka membunuh, suka memaki, suka bermusuhan, sadis, kejam, marah, memukul, selalu rakus, tidak merasa puas, baik harta, tahta, wanita, pangkat, jabatan, kedudukan, kekayaan,
SYAHRU HAMASAH
Bulan Ramadhan sebagai Syahru Hamasah, bulan motivasi, bulan semangat, bulan peningkatan. Bekerja lebih giat beribadah lebih semangat. Bekerja lebih keras beribadah lebih ikhlas. Bekerja lebih serius beribadah lebih tulus. Bukan sebaliknya bekerja lemes beribdah males, bermalas malasan di bulan ramadhan.
Islam mengajarkan kepada kita " Bekerjalah kamu untuk duniamu, seolah olah kamu akan hidup selamanya. Beribadahlah kamu untuk akhiratmu, seolah olah kamu akan mati besok pagi ". Bekerja dan beribah dengan penuh motivasi akan mendatangkan kesuksesan, kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirtai
Ada 6 kunci agar hidup kita sukses, bahagia, selamat di dunia dan di akhirat yang disebut 6S :
1. SD (Sholat Dhuha) ; jangan ditinggalkan,
sholat pada waktu pagi hari, dimana orang sedang sibuk memikirkan duniawi, sibuk ke kantor, ke pasar, ke sawah, tidak memikirkan Tuhan, tapi kita sholat Dhuha, sepertinya malaikat kagum kepada orang yang sholat dhuha, dan doanya pasti dikabul. Coba renungkan sebagian doanya : Allahuma, Ya Allah ...kalau rizki kami masih dilangit .....turunkanlah, kalau masih dalam perut bumi ..... keluarkanlah, kalau tersembunyi ..... nampakkanlah, Ya Allah kalau rizki kami masih sukar ..... mudahkanlah, kalau sulit ..... gampangkanlah, kalau sempit ..... lapangkanlah, kalau sedikit ..... banyakanlah, cukupkanlah, kalau haram .... sucikanlah, kalau kotor ..... bersihkanlah, kalau jauh ..... dekatkanlah .
2. SMP (Sholat Malam Pertahankanlah) ;
sholat pada waktu sepertiga malam, dimana orang sedang tidur nyenyak, sepi jempling, kemudian kita bangun untuk rukuk, sujud, tahajud, sepertinya malaikat kagum, dan doanya pasti dikabul. Maka istiqomahlah dalam bertahajud.
وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةً۬ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامً۬ا مَّحۡمُودً۬ا (٧٩) .
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (79)
3. SMA (Suka Membaca Al Qur'an) / SMK (Senang Membaca Kitab al qur'an) ;
Membaca Al Qur'an dengan penuh keyakinan ; bahwa ayat demi ayat al qur'an yang kita baca adalah hidayah, semakin sering membaca al qur'an maka hidayah (petunjuk Allah) makin melekat dalam hati kita. ayat demi ayat al qur'an yang kita baca adalah maghfirah (ampunan Allah), ....ma'rifatullah (dekat kepada Allah), ....nurulllah (cahaya Allah) yang menerangi hati manusia (di dunia), menerangi alam kubur (di akhirat)
4. S1 (Shodaqoh) ;
shodaqoh, infak memberikan sebagian rizki kita untuk fakir miskin. Shodaqoh/infak adalah sebagai pembuka pintu rizki, sebagai pembuka pintu surga, sebagai pengangkat harkat derajat, sebagai penolak bala,dan memperpanjang umur kita.
5. S2 (Senang Silaturahim) ;
silaturahim lebih tepat digunakan untuk menggambarkan aktivitas saling berkunjung untuk mempererat tali persaudaraan yang masih memiliki hubungan darah. Berbeda dengan silaturahmi yang merujuk pada hubungan persahabatan atau pertemanan
6. S3 (Selalu Sholat Subuh) berjamaah di mesjid ;
"Salat terberat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada salat tersebut, tentunya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak." (HR Ahmad). Hikmah dan manfaat sholat subuh berjamaah ; Mendapatkan Pahala Mengerjakan Sholat Malam; Akan Berada dalam Perlindungan Allah SWT; Mendapatkan Pahala yang Tidak Diduga; Akan Mendapatkan Pahala yang Paling Besar ; Akan Mendapatkan Cahaya di Hari Kiamat
Bulan Ramadhan sebagai Syahru Hamasah, bulan motivasi, bulan semangat, bulan peningkatan. Bekerja lebih giat beribadah lebih semangat. Bekerja lebih keras beribadah lebih ikhlas. Bekerja lebih serius beribadah lebih tulus. Bukan sebaliknya bekerja lemes beribdah males, bermalas malasan di bulan ramadhan.
Islam mengajarkan kepada kita " Bekerjalah kamu untuk duniamu, seolah olah kamu akan hidup selamanya. Beribadahlah kamu untuk akhiratmu, seolah olah kamu akan mati besok pagi ". Bekerja dan beribah dengan penuh motivasi akan mendatangkan kesuksesan, kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirtai
Ada 6 kunci agar hidup kita sukses, bahagia, selamat di dunia dan di akhirat yang disebut 6S :
1. SD (Sholat Dhuha) ; jangan ditinggalkan,
sholat pada waktu pagi hari, dimana orang sedang sibuk memikirkan duniawi, sibuk ke kantor, ke pasar, ke sawah, tidak memikirkan Tuhan, tapi kita sholat Dhuha, sepertinya malaikat kagum kepada orang yang sholat dhuha, dan doanya pasti dikabul. Coba renungkan sebagian doanya : Allahuma, Ya Allah ...kalau rizki kami masih dilangit .....turunkanlah, kalau masih dalam perut bumi ..... keluarkanlah, kalau tersembunyi ..... nampakkanlah, Ya Allah kalau rizki kami masih sukar ..... mudahkanlah, kalau sulit ..... gampangkanlah, kalau sempit ..... lapangkanlah, kalau sedikit ..... banyakanlah, cukupkanlah, kalau haram .... sucikanlah, kalau kotor ..... bersihkanlah, kalau jauh ..... dekatkanlah .
2. SMP (Sholat Malam Pertahankanlah) ;
sholat pada waktu sepertiga malam, dimana orang sedang tidur nyenyak, sepi jempling, kemudian kita bangun untuk rukuk, sujud, tahajud, sepertinya malaikat kagum, dan doanya pasti dikabul. Maka istiqomahlah dalam bertahajud.
وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةً۬ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامً۬ا مَّحۡمُودً۬ا (٧٩) .
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (79)
3. SMA (Suka Membaca Al Qur'an) / SMK (Senang Membaca Kitab al qur'an) ;
Membaca Al Qur'an dengan penuh keyakinan ; bahwa ayat demi ayat al qur'an yang kita baca adalah hidayah, semakin sering membaca al qur'an maka hidayah (petunjuk Allah) makin melekat dalam hati kita. ayat demi ayat al qur'an yang kita baca adalah maghfirah (ampunan Allah), ....ma'rifatullah (dekat kepada Allah), ....nurulllah (cahaya Allah) yang menerangi hati manusia (di dunia), menerangi alam kubur (di akhirat)
4. S1 (Shodaqoh) ;
shodaqoh, infak memberikan sebagian rizki kita untuk fakir miskin. Shodaqoh/infak adalah sebagai pembuka pintu rizki, sebagai pembuka pintu surga, sebagai pengangkat harkat derajat, sebagai penolak bala,dan memperpanjang umur kita.
5. S2 (Senang Silaturahim) ;
silaturahim lebih tepat digunakan untuk menggambarkan aktivitas saling berkunjung untuk mempererat tali persaudaraan yang masih memiliki hubungan darah. Berbeda dengan silaturahmi yang merujuk pada hubungan persahabatan atau pertemanan
6. S3 (Selalu Sholat Subuh) berjamaah di mesjid ;
"Salat terberat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada salat tersebut, tentunya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak." (HR Ahmad). Hikmah dan manfaat sholat subuh berjamaah ; Mendapatkan Pahala Mengerjakan Sholat Malam; Akan Berada dalam Perlindungan Allah SWT; Mendapatkan Pahala yang Tidak Diduga; Akan Mendapatkan Pahala yang Paling Besar ; Akan Mendapatkan Cahaya di Hari Kiamat
SYAHRU TARBIYAH
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadhan disebut pula Syahru Tarbiyah, yaitu Bulan Pendidikan, Bulan Pembinaan. Selama satu bulan kita dibina, dididik, dilatih, digembleng oleh Allah SWT, supaya mampu mengendalikan, mengarahkan hawa nafsu kita, supaya kita sanggup mengatur waktu dengan sebaik baiknya, kapan waktunya makan, kapan waktunya minum, kapan waktunya sahur kapan waktunya berbuka, kapan waktunya bekerja, kapan waktunya beribadah, melalui ibadah puasa di bulan ramadhan.
Ada beberapa pembinaan, pendidikan, pelatihan, penggemblengan yang diberikan, diajarkan oleh Allah SWT kepada manusia pada bulan Ramadhan
Pertama : Tarbiyah Ruhaniyah ( Pendidikan Mental Spiritual )
Melalui ibadah puasa, ruh kita, jiwa kita dididik, dibina, dilatih agar memiliki jiwa yang bersih, sakinah, mutmainah ( Tazkiyatun Nafsi ) dimana orang yang berpuasa selain menjaga diri untuk tidak makan dan minum, juga dituntut untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dengan penuh kepasrahan, ketundukan, ketulusan, keikhlasan. Maka dalam ibadah puasa ada hikmah yaitu memenangkan ruh Illahi atas materi dan akal atas nafsu angkara murka.
Kedua : Tarbiyah Jasadiyah ( Pendidikan Jasmani )
Melalui puasa, mata kita dididik agar tidak jelalatan, tak karuan, melihat yang haram, mulut kita dibina agar tidak berkata kotor, kasar, menyakiti, menyinggung, melukai perasaan orang, telinga kita dilatih agar tidak mendengar yang haram, perut dibimbing agar tidak makan dan minum yang haram, tangan kita dibina agar rajin berbagi, rajin bersodaqoh, kaki kita di bina agar selalu dilangkahkan ketempat pengajian, ketempat kemulyaan. Seluruh anggota tubuh kita dibina, digembleng untuk berpuasa, agar sehat, kokoh dan kuat. “Berpuasalah maka kamu akan sehat“
Ketiga : Tarbiyah Ijtimaiyah ( Pendidikan Sosial )
Melalui puasa, kita dibina agar merasakan lapar dan dahaga, merasakan penderitaan orang lain, melalui puasa kita dididik untuk hidup dalam kesederhanaan, kebersamaan, kesamaan, kesatuan, cinta dan kasih sayang kepada sesama, sehingga orang-orang yang mampu dan kaya merasakan apa yang di derita oleh orang-orang fakir miskin, kaum papa duafa dan mau memberi dari rizki yang Allah anugrahkan kepadanya, antara lain melalui zakat fitrah dan bersedekah. Sehingga harapkan timbul dan muncul rasa persaudaraan dan solidaritas sosial.
Keempat : Tarbiyah Khulukiyah ( Pembinaan Akhlak )
Melalui puasa di bulan ramadhan kita dibina, dididik, dibimbing, dilatih, digembleng oleh Allah agar memiliki akhlak yang mulia dan terpuji, sabar dan jujur serta tegar terhadap segala ujian dan cobaan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:
Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela orang lain atau dimusuhi, maka katakanlah: “Aku ini sungguh sedang puasa”.
Dalam Hadits lain dikatakan :
Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dusta, dan melakukan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga mereka. (HR Bukhari dan Abu Dawud).
Kelima : Tarbiyah Jihadiyah ( Pembinaan Jihad )
Melalui puasa, Allah membina dan mendidik kita agar memiliki semangat jihad, yaitu semangat berjuang, berkorban, berperang, terutama jihad dalam diri ( Jihadun Nafsi ), yaitu jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam jiwa kita, mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang.
Makna jihad lainnya adalah bersungguh sungguh. Bersungguh sungguh dalam bekerja, dalam beribadah. Dan bukan karena berpuasa orang lalu boleh bermalas-malasan atau tidur tiduran, namun sebaliknya harus lebih giat lagi, lebih ditingkatkan lagi, karena ganjaran orang yang melakukan kebaikan saat puasa ramadhan bahwa pahalanya akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat oleh Allah. Karena itu Allah SWT berfirman :
- dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ( QS. Al Ankabut (29) : 69 )
(Bisa dijadikan dua kali kultum)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadhan disebut pula Syahru Tarbiyah, yaitu Bulan Pendidikan, Bulan Pembinaan. Selama satu bulan kita dibina, dididik, dilatih, digembleng oleh Allah SWT, supaya mampu mengendalikan, mengarahkan hawa nafsu kita, supaya kita sanggup mengatur waktu dengan sebaik baiknya, kapan waktunya makan, kapan waktunya minum, kapan waktunya sahur kapan waktunya berbuka, kapan waktunya bekerja, kapan waktunya beribadah, melalui ibadah puasa di bulan ramadhan.
Ada beberapa pembinaan, pendidikan, pelatihan, penggemblengan yang diberikan, diajarkan oleh Allah SWT kepada manusia pada bulan Ramadhan
Pertama : Tarbiyah Ruhaniyah ( Pendidikan Mental Spiritual )
Melalui ibadah puasa, ruh kita, jiwa kita dididik, dibina, dilatih agar memiliki jiwa yang bersih, sakinah, mutmainah ( Tazkiyatun Nafsi ) dimana orang yang berpuasa selain menjaga diri untuk tidak makan dan minum, juga dituntut untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dengan penuh kepasrahan, ketundukan, ketulusan, keikhlasan. Maka dalam ibadah puasa ada hikmah yaitu memenangkan ruh Illahi atas materi dan akal atas nafsu angkara murka.
Kedua : Tarbiyah Jasadiyah ( Pendidikan Jasmani )
Melalui puasa, mata kita dididik agar tidak jelalatan, tak karuan, melihat yang haram, mulut kita dibina agar tidak berkata kotor, kasar, menyakiti, menyinggung, melukai perasaan orang, telinga kita dilatih agar tidak mendengar yang haram, perut dibimbing agar tidak makan dan minum yang haram, tangan kita dibina agar rajin berbagi, rajin bersodaqoh, kaki kita di bina agar selalu dilangkahkan ketempat pengajian, ketempat kemulyaan. Seluruh anggota tubuh kita dibina, digembleng untuk berpuasa, agar sehat, kokoh dan kuat. “Berpuasalah maka kamu akan sehat“
Ketiga : Tarbiyah Ijtimaiyah ( Pendidikan Sosial )
Melalui puasa, kita dibina agar merasakan lapar dan dahaga, merasakan penderitaan orang lain, melalui puasa kita dididik untuk hidup dalam kesederhanaan, kebersamaan, kesamaan, kesatuan, cinta dan kasih sayang kepada sesama, sehingga orang-orang yang mampu dan kaya merasakan apa yang di derita oleh orang-orang fakir miskin, kaum papa duafa dan mau memberi dari rizki yang Allah anugrahkan kepadanya, antara lain melalui zakat fitrah dan bersedekah. Sehingga harapkan timbul dan muncul rasa persaudaraan dan solidaritas sosial.
Keempat : Tarbiyah Khulukiyah ( Pembinaan Akhlak )
Melalui puasa di bulan ramadhan kita dibina, dididik, dibimbing, dilatih, digembleng oleh Allah agar memiliki akhlak yang mulia dan terpuji, sabar dan jujur serta tegar terhadap segala ujian dan cobaan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:
Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela orang lain atau dimusuhi, maka katakanlah: “Aku ini sungguh sedang puasa”.
Dalam Hadits lain dikatakan :
Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dusta, dan melakukan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga mereka. (HR Bukhari dan Abu Dawud).
Kelima : Tarbiyah Jihadiyah ( Pembinaan Jihad )
Melalui puasa, Allah membina dan mendidik kita agar memiliki semangat jihad, yaitu semangat berjuang, berkorban, berperang, terutama jihad dalam diri ( Jihadun Nafsi ), yaitu jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam jiwa kita, mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang.
Makna jihad lainnya adalah bersungguh sungguh. Bersungguh sungguh dalam bekerja, dalam beribadah. Dan bukan karena berpuasa orang lalu boleh bermalas-malasan atau tidur tiduran, namun sebaliknya harus lebih giat lagi, lebih ditingkatkan lagi, karena ganjaran orang yang melakukan kebaikan saat puasa ramadhan bahwa pahalanya akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat oleh Allah. Karena itu Allah SWT berfirman :
- dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ( QS. Al Ankabut (29) : 69 )
(Bisa dijadikan dua kali kultum)
SYAHRU RAMADHAN
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Puasa disebut pula Syahru Ramadhan (Bulan Ramadhan). Istilah Ramadhan artinya ‘sangat terik’, ‘panas yang menyengat’’, ‘panon poe ereng-ereng’. Bulan ramadhan adalah bulan pembakaran. Pembakaran terhadap dosa, kesalahan, kekhilapan, aib kita kepada Allah atau kepada sesama manusia. Dosa kepada Allah ; banyak menentang Allah, banyak melanggar perintah Allah. Dosa kepada sesama manusia : sering menyAkiti, menyinggung dan melukai perasaan orang lain.
Semua dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela, pada bulan ini dibakar dengan amal ibadah : puasa, sholat tarawih, tadarus Al Qur’an, shodaqoh.
- Sebelas bulan mata kita sering jelalatan, berbuat kemaksiatan, dibakar dengan rajin membaca Al Qur’an
- Sebelas bulan mulut kita banyak ngomong tak karuan, dibakar dengan tadarusan, dengan ucapan-ucapan dzikir kepada Allah
- Sebelas bulan tangan kita, kadang dipakai mengambil hak orang, memukul orang, dibakar dengan rajin mengulurkan tangan untuk shodaqoh, membantu menolong orang
- Sebelas bulan kaki kita sering dilangkahkan ketempat kemaksiatan, dibakar dengan sering datang ke tempat pengajian
- Sebelas bulan telinga kita sering digunakan untuk mendengarkan kejelekan orang, dibakar dengan mendengarkan pengajian.
Selain dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, juga dibakar sifat-sifat tercela, sifat buruk kita lainnya, antara lain :
- Iri, dengki kita, dibakar dengan saling mengasihi dan mencintai
- Tamak, serakah, haram jadah kita, dibakar denga sifat qona’ah
- Riya, ujub kita, dibakar dengan sifat ikhlas
- Angkuh, sombong kita, dibakar dengan sifat tawadlu, rendah hati
- Sifat-sifat saling mengasihi, mencintai, qona’ah, ikhlas, tulus, tawadlu adalah sifat-sifat yang diajarkan, ditanamksn dalam pelaksanaan ibadah puasa.
Sesuatu benda, kalau dibakar, setelah mengalami proses pembakaran, maka benda tersebut akan mengalami nilai tambah, bernilai tinggi, berharga mahal. Tanah dibakar jadi bata, dibakar menggunakan IPTEK jadi keramik, yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Besi dibakar jadi pisau, arit, gergaji, dibakarnya pakai IPTEK jadi motor, mobil, yang memiliki ekonomi tinggi.
Manusia dibakar, diramadhankan jadi taqwa, jadi mulya ( insan karimah ). Dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela dibakar dengan puasa, sholat tarawih, tadarus, tawadlu, qona’ah, ikhlas, saling mengasihi, saling mencintai, maka manusia itu menjadi manusia yang bertaqwa.
Manusia bertaqwa adalah manusia yang palimg mulia.
إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡۚ - Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Puasa disebut pula Syahru Ramadhan (Bulan Ramadhan). Istilah Ramadhan artinya ‘sangat terik’, ‘panas yang menyengat’’, ‘panon poe ereng-ereng’. Bulan ramadhan adalah bulan pembakaran. Pembakaran terhadap dosa, kesalahan, kekhilapan, aib kita kepada Allah atau kepada sesama manusia. Dosa kepada Allah ; banyak menentang Allah, banyak melanggar perintah Allah. Dosa kepada sesama manusia : sering menyAkiti, menyinggung dan melukai perasaan orang lain.
Semua dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela, pada bulan ini dibakar dengan amal ibadah : puasa, sholat tarawih, tadarus Al Qur’an, shodaqoh.
- Sebelas bulan mata kita sering jelalatan, berbuat kemaksiatan, dibakar dengan rajin membaca Al Qur’an
- Sebelas bulan mulut kita banyak ngomong tak karuan, dibakar dengan tadarusan, dengan ucapan-ucapan dzikir kepada Allah
- Sebelas bulan tangan kita, kadang dipakai mengambil hak orang, memukul orang, dibakar dengan rajin mengulurkan tangan untuk shodaqoh, membantu menolong orang
- Sebelas bulan kaki kita sering dilangkahkan ketempat kemaksiatan, dibakar dengan sering datang ke tempat pengajian
- Sebelas bulan telinga kita sering digunakan untuk mendengarkan kejelekan orang, dibakar dengan mendengarkan pengajian.
Selain dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, juga dibakar sifat-sifat tercela, sifat buruk kita lainnya, antara lain :
- Iri, dengki kita, dibakar dengan saling mengasihi dan mencintai
- Tamak, serakah, haram jadah kita, dibakar denga sifat qona’ah
- Riya, ujub kita, dibakar dengan sifat ikhlas
- Angkuh, sombong kita, dibakar dengan sifat tawadlu, rendah hati
- Sifat-sifat saling mengasihi, mencintai, qona’ah, ikhlas, tulus, tawadlu adalah sifat-sifat yang diajarkan, ditanamksn dalam pelaksanaan ibadah puasa.
Sesuatu benda, kalau dibakar, setelah mengalami proses pembakaran, maka benda tersebut akan mengalami nilai tambah, bernilai tinggi, berharga mahal. Tanah dibakar jadi bata, dibakar menggunakan IPTEK jadi keramik, yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Besi dibakar jadi pisau, arit, gergaji, dibakarnya pakai IPTEK jadi motor, mobil, yang memiliki ekonomi tinggi.
Manusia dibakar, diramadhankan jadi taqwa, jadi mulya ( insan karimah ). Dosa, kesalahan, kekhilapan, aib, sifat-sifat tercela dibakar dengan puasa, sholat tarawih, tadarus, tawadlu, qona’ah, ikhlas, saling mengasihi, saling mencintai, maka manusia itu menjadi manusia yang bertaqwa.
Manusia bertaqwa adalah manusia yang palimg mulia.
- Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar