Alamat : Desa Palabuan Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Propinsi Jawa Barat Indonesia 45471 - Iman Ilmu dan Amal - Dzikir Fikir dan Ikhtiar - Tafakur Tadzakur Tasyakur dan Tashobur

KHUTBAH JUMAT

  



MAKNA ZAKAT FITRAH


Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah


Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim yang mampu sebelum hari raya Idul Fitri. Zakat ini berfungsi sebagai penyucian jiwa dan penyempurna ibadah puasa Ramadhan.  

Zakat fitrah biasanya diberikan dalam bentuk makanan pokok (seperti beras) sebanyak 2,5 kg atau 3,5 liter, atau dapat dikonversi dalam bentuk uang dengan nilai setara

Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat At Taubah ayat 103 :

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ صَدَقَةً۬ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيہِم بِہَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡ‌ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ۬ لَّهُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (١٠٣)

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu [menjadi] ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS At Taubah (103)

Imam Al-Ghazali, dalam karyanya Ihya’ Ulumiddin, membahas zakat fitrah tidak hanya sebagai kewajiban syariat, tetapi juga sebagai sarana penyucian jiwa, mengasah keikhlasan, dan membangun solidaritas sosial. 

Syekh Abdul Qodir Al Jilani dalam bkunya Al Ghuyah memandang bahwa : zakat fitrah adalah sebagai  penyucian hati, penghambaan sejati kepada Allah dan manisfestasi kasih sayang kepada sesama.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Berikut beberapa makna penting dari zakat fitrah ::

1. Zakat Fitrah sebagai Penyucian Jiwa

Bahwa tujuan utama zakat fitrah adalah membersihkan jiwa dari kesalahan selama berpuasa dan menghilangkan sifat kikir serta cinta dunia. Zakat Fitrah bukan sekadar kewajiban syariat, untuk menggugurkan kewajiban tetapi juga merupakan ujian keikhlasan bagi seorang Muslim.

Zakat fitrah bukan hanya untuk membersihkan harta saja, tetapi juga membersihkan jiwa, qolbu, hati dari sifat kikir, egoisme, dan cinta dunia yang berlebihan

Nabi Muhammad SAW bersabda :

زَكَاةَ الْفِطْرِطُهْرَةً لِلْصَائِمِ مِنَ لَّلغْوِ وَالرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمِسْكِيْنِ 

"Zakat fitrah adalah penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin." (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

2. Zakat Fitah sebagai Pengembalikan Hak Orang Lain

Bahwa harta yang dimiliki seseorang sebenarnya bukan sepenuhnya miliknya, tetapi ada hak orang lain ; ada hak fakir miskin, yatim piatu, kaum papa, kaum dhuafa di dalamnya. Zakat fitrah adalah cara Allah mendidik, membina, membimbing manusia untuk tidak rakus dan tamak terhadap harta dan dunia.

Imam Al Ghozali berkata :

"Orang yang dermawan adalah orang yang menyadari bahwa harta bukan miliknya, tetapi hanya titipan yang harus disalurkan kepada yang berhak."

3. Zakat Fitrah untuk Mengasah Keikhlasan

Bahwa zakat fitrah yang diberikan hendaknya dilakukan dengan hati yang tulus, ikhlas, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Janganlah  berzakat dengan niat pamer (riya’) atau terpaksa, karena hal itu mengurangi keberkahan dan pahala..

Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghozali menuliskan:

"Barang siapa yang memberikan zakat fitrah dengan hati yang berat, ia belum benar-benar memahami hakikat zakat. Hakikat zakat adalah memberikan dengan kebahagiaan dan keyakinan bahwa ia sedang membersihkan dirinya dan mendekatkan diri kepada Allah."

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

4. Zakat sebagai Wujud Rasa Syukur

Bahwa zakat fitrah adalah sebagai bentuk syukur atas nikmat Ramadan. Seseorang yang telah menjalani puasa selama sebulan penuh harus menutupnya dengan zakat sebagai tanda terima kasih kepada Allah atas kekuatan dan hidayah yang diberikan.

Zakat fitrah juga merupakan cara agar kebahagiaan Idulfitri dirasakan oleh semua orang, termasuk fakir miskin.

5. Zakat Fitrah sebagai Latihan Mengendalikan Hawa Nafsu

Bahwa zakat fitrah adalah salah satu cara untuk melawan hawa nafsu dan sifat cinta dunia (Hubud Dunya).  Orang yang enggan berzakat menunjukkan keserakahan dan keterikatan berlebihan terhadap harta dan dunia.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani berkata:

"Orang yang enggan mengeluarkan zakat, sesungguhnya ia masih terperangkap dalam tipu daya dunia. Ia belum memahami hakikat bahwa semua yang ia miliki adalah milik Allah."

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mudah mudahan kita semua yang hadir disini, tidak hanya hadir badannya, jasmaninya, fisiknya saja, tetapi hadir pula hatinya, qolbunya, jiwanya ruhnya, termasuk orang orang  yang mampu membayar zakat dengan ikhlas, penuh kesadaran, dan dengan niat memcari ridha Allah bukan hanya sebagai kewajiban formal, untuk menggugurkan kewajiban tetapi sebagai jalan menuju kebersihan hati, penyucian jiwa, kesempurnaan ibadah dan ketakwaan yang sejati

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ


ADAKAH ALLAH SWT MENCINTAI KITA ?


 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS Al Baqarah (2) : 222)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Apakah Allah mencintai kita ? ‘Adakah Allah SWT  mencintaiku ?’ pertanyaan yang selalu diajukan oleh Syeikh Ali Al Thanthani. Pertanyaan ini mengandung optimisme, tetapi juga kegalauan hati seseorang pencari ‘cinta Illahi’.

Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita telaah dan renungkan beberapa ayat yang tercantum dalam Al Quran sbb:


1.     Pertama :
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ (٤)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS At taubah (9) : 4)

Orang-orang yang bertaqwa itu adalah orang-orang yang menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya dengan penuh kesadaran, kesungguhan, keikhlasan, ketulusan dan kedisiplinan. Apakah dalam perjalanan hidup ini, kita lebih banyak ‘taat, ingat’ kepada Allah ? ataukah lebih banyak ‘hianat, maksiat’ kepada Allah ?
Apakah kita sudah rajin beribadah, rajin sholatnya ? rajin puasanya ? rajin shodaqohnya ? Apakah ibadah kita sudah istiqomah ? Apakah kita sudah mencapai derajat taqwa ? kalau belum, rasanya belum pantas kita mendapat cintanya Allah.

2.     Kedua :
 وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٤٦)
 Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS : Al Imran (3) : 146)

Orang-orang yang sabar itu adalah orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mendapat masalah, kesulitan, kerumitan, ujian, cobaan dalam hidup, mereka sabar menghadapinya, sadar menjalaninya, tegar menerimanya, ikhtiar mengatasinya. Apakah kita sudah memiliki sifat sabar ? ataukah kita masih sering merasa putus asa, pesimis, ‘aral’ apabila mendapat musibah ? Kalau belum sabar, rasanya belum pantas mendapatkan cintanya Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

3.     Ketiga :
 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِ
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan Allah,... (QS : As shaff (61) : 4)

Orang-orang yang berperang dijalan Allah adalah orang-orang yang berjihad, bersungguh-sungguh, bekerja keras dalam menegakkan kalimatullah, menegakkkan syariat Allah, dengan harta, jiwa dan segala kemampuan yang dimilikinya. Sudahkah kita berjihad melawan hawa nafsu ? Sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam beribadah, bekerja keras, belajar ? ataukah kita masih malas-malasan dalam berusaha, dalam hidup ? Kalau masih malas-malasan, tidak sungguh-sungguh dalam berusaha, bekerja, belajar, rasanya belum pantas mendapatkan cintanya Allah.

4.     Keempat :
 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١٣)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS : Al Maidah (5) : 13)

Orang-orang yang berbuat baik (ihsan) adalah orang-orang yang selalu berbuat amal sholeh, amal ibadahnya rajin, sholatnya tekun, shodaqohnya rajin, suka menolong orang, hidupnya bermanfaat bagi orang lain. Sudahkah kita berbuat baik kepada orang lain, apakah hidup kita bermanfaat bagi orang lain ? kalau belum, rasanya belum pantas mendapatkan cintanya Allah.

5.     Kelima :
 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat(QS. Al Baqarah (2) : 222)

Orang-orang yang bertobat adalah orang-orang yang apabila berbuat dosa, kesalahan, kekhilapan, kealafaan, mereka segera memohon ampun atas segala dosanya, menyesali akan kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulang kembali perbuatan salahnya. Dalam mengarungi hidup ini kita sebagai manusia tidak terlepas dari dosa dan kesalahan, kekhilapan dan kealafaan, noda dan aib, kemudian kita bersungguh-sungguh bertaubat (taubatan nasuha), maka Allah akan mengampuni kita, mencintai kita. Kalau ini kita lakukan, rasanya ayat inilah yang pantas bagi kita untuk mendapatkan cintanya Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang akan  mendapatkan cintanya Allah, karena ketaqwaannya, kesabarannya, kebaikannya, kesungguhannya dan taubatnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar